Tempat pertama yang kami singgahi adalah Yushan Park, taman luas yang tampak seperti taman di Eropa. Taman ini relatif baru, dibangun dengan mengombinasikan unsur-unsur Barat dan Timur. Di bagian utara, sebagaimana layaknya taman, ada air mancur, hamparan rumput, dan bebungaan. Makin ke selatan, unsur-unsur khas Cina semakin nyata, seperti Dinding Echo yang dipenuhi relief Cina, Gua Shaoyin yang menembus ke bagian lain taman; sampai akhirnya kami tiba di kompleks Vihara Kaisar Yu (Emperor Yu Temple) yang dibangun pada era Dinasti Qin (221 - 206 SM) untuk memperingati kunjungan Kaisar Yu ke sini. Sebagai yang pertama dan tertua, vihara ini banyak dikunjungi peziarah, karena dianggap sebagai tempat ‘kebahagiaan sempurna’. Jauh di atasnya berdiri tegak Menara Lima Berkat (Five Blessings Tower) yang diberi nama sesuai kata-kata mutiara Cina, “Lima berkat masuk ke rumah.” Yushan Park juga terkenal karena pernah menjadi markas besar Chiang Kai-shek di Guilin pada 1937. Peninggalannya berupa pesawat telepon, ranjang, keperluan kantor, dan foto-foto dapat ditemui di salah satu bangunan dan menjadi perhatian rombongan kami. Maklum, bagi orang awam nama Chiang jauh lebih dikenal ketimbang Kaisar Yu.
Tempat unik lainnya adalah Elephant Trunk Hill. Bukit-bukit di sini memang membuat imajinasi berkembang dengan kreatif. Bukit yang berlubang di tengahnya dan terletak di tengah sungai itu memang sungguh mirip dengan gajah yang sedang minum. Bukit itu menjadi landmark Guilin dan dapat ditemui di brosur dan buku wisata, kartu pos, internet, hingga magnet kulkas. Belum puas? Sebagian peserta minta difoto oleh jurufoto yang menjual jasa di situ, untuk segera dicetak menjadi kalender Tahun 2012, berlatar belakang ‘gajah minum’ yang beken itu.
Tak jauh dari situ, berdiri Bukit Fubo (Fubo Hill). Ketinggian bukit ini lebih dari 200 meter, separuhnya terendam di air. Di bukit ini didirikan sebuah vihara untuk memperingati
Jenderal Fubo pada era Dinasti Tang (618-907). Pemandangan berupa gua alami dan bangunan buatan menciptakan tampilan yang menarik.
Kisah-kisah yang diceritakan pemandu juga tak kelah menarik, antara lain patung Buddha yang bisa memberi rezeki bila pengunjung dapat menggapai dadanya melalui lubang, stalaktit yang dipapas bagian bawahnya oleh ketajaman pedang Jenderal Fubo, kuali besar untuk memasak makanan bagi seribu orang di masa perang. Kunjungan ke ‘lantai atas’ gua memungkinkan pengunjung berhadapan dengan ratusan patung Buddha, hasil pahatan seniman pada era Dinasti Tang. Inilah Gua Seribu Buddha (Thousand Buddha Cave).



