Sesampainya di Karimunjawa, saya langsung menyimpan barang di penginapan, ganti pakaian, lalu langsung ke dermaga. Sebelum naik kapal, masing-masing diberi baju pelampung yang harus selalu dipakai. Saya dan beberapa teman kemudian menyewa snorkel dan sepatu katak (fin). Ternyata berenang di laut menggunakan baju pelampung tidak semudah kelihatannya, terutama jika ukurannya tidak pas. Pelampung akan terangkat dari tubuh dan membuat gerak tubuh terbatas. Perlu beberapa saat hingga saya mendapatkan rasa pas saat memakai baju pelampung. Begitu pula dengan snorkel. Saya perlu mencobanya beberapa kali agar terbiasa bernapas dari mulut saja. Tujuan pertama kami adalah Pulau Cemara Besar. Dari kejauhan, saya sudah melihat gundukan pasir putih yang mengundang untuk disentuh serta lambaian daun-daun pohon kelapa yang seperti memanggil-manggil saya. Namun untuk sampai ke pulau itu ternyata tidak mudah. Dari kapal, kami harus berenang. Lumayan takut juga, karena itulah pertama kali saya berenang di laut dengan peralatan lengkap. Rasanya berat, belum lagi angin ikut mendorong saya menjauhi pantai. Perjalanan lalu dilanjutkan ke tengah lautan. Karena lautnya diam alias tidak ada angin, kami bebas snorkeling, sendirian, berpasangan, atau beramai-ramai. Di sini, kami dapat menikmati karang-karang yang ada sekitar tiga meter di bawah. Kelihatannya cukup beragam, namun tidak terlalu berwarna. Kami pun segera hengkang dari sana. Bukan apa-apa, ternyata banyak bulu babi yang dekat sekali dengan permukaan air!
Di lokasi kedua, kedalaman air mencapai lima meter sehingga keberadaan bulu babi tidak terlalu mengancam kami. Saya pun dengan semangat berenang-renang ke sana kemari. Sebenarnya saya masih bisa melakukan ini beberapa jam lagi. Namun hari sudah mulai gelap. Kami pun diinstruksikan untuk naik ke kapal dan kembali ke penginapan. Begitu duduk di atas kapal dan diterpa angin, baru saya merasakan rasa lelah luar biasa. Di perjalanan, mata kami dibuai oleh pemandangan matahari terbenam yang begitu indah. (bersambung)
Nofi Firman



