Coco Chanel bisa dikatakan sebagai salah satu pelopor yang mengadaptasi perhiasan imitasi sebagai aksesori ke dalam desain busananya. Tren menggunakan aksesori ini dimulai pada tahun 1930-an, ketika banyak wanita ingin tampil fashionable namun tak mampu memiliki perhiasan ‘asli’. Bahkan aksesori yang didesain oleh beberapa rumah mode terkenal pada zaman itu menjelma menjadi collectible item yang tak kalah berharga di masa kini. Seperti yang terlihat dalam penjualan perhiasan online www.etsy.com, menjual sepasang anting dan sebuah bros keluaran rumah mode Dior. Perhiasan yang menggunakan berlian imitasi dan blown glass berdominasi warna biru tersebut kini dijual diatas harga US $300. Seiring perjalanan waktu, perhiasan imitasi tidak hanya menduplikasi bentuk permata, berlian, dan emas. Perpaduan yang cantik bebatuan semi mulia, seperti safir, mirah, quart, atau kecubung mampu memberikan ‘wajah segar’ dalam garis desain yang chic. Seperti yang dilakukan Nicole Richie, putri dari Lionel Richie ini menjadi salah ikon busana tenar di kalangan pecinta fashion. Menyandang ketenaran tersebut, ia merancang lini perhiasan House of Harlow 1960 yang kerap menggunakan bebatuan semi mulia. Richie menengahkan citra bohemian yang effortless dalam desain perhiasannya.
Popularitas perhiasan imitasi tetap memiliki tempat spesial di hati para pecinta fashion. Kepemilikannya bukan lagi sebagai penentu status sosial seseorang, namun pemilihan dan padu padannya menentukan cita rasa individu dalam berbusana. Bahkan kini, penggunaan material acrylic juga menambah maraknya dunia aksesoris. Sebutlah label-label terkenal seperti Kate Spade, Marc Jacobs, dan Bottega Veneta yang memasukkan perhiasan ‘alternatif’ ini dalam deretan rancangannya.



