
“When you are a star, they let you do it. You can do anything. Grab them by pussy.”
Sebaris kalimat ucapan Donald Trump itu memicu emosi para perempuan. Sebelumnya, pada saat kampanye, ia membawa dua perempuan berbikini ke tengah keramaian jalanan. Tanpa sungkan ia menyentuh bagian tubuh para perempuan itu, persis pada bikininya. Sangat vulgar dan tidak sopan.
Tapi yang terjadi kemudian membuat banyak orang termangu, karena dialah yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Dan sebagian pemilihnya (yang tidak sedikit) adalah perempuan.
Namun, meskipun terasa kurang ajar, tak pelak kita harus mengakui bahwa kalimat yang diucapkan Trump itu tidak sepenuhnya salah.
Vagina. Keperempuanan kita. Dari sanalah manusia bermula dan dilahirkan. Para calon ibu berjuang di antara batas hidup dan mati demi melahirkan sebuah generasi baru. Operasi transgender bisa dilakukan, teknologi memungkinkan seorang laki-laki beralih tubuh menjadi perempuan atau sebaliknya.
Tapi kemuliaan rahim tak tergantikan. Tak ada teknologi yang mampu menciptakan makhluk hidup tanpa rahim perempuan. Maka kemampuan reproduksi itu adalah anugerah yang mulia.
Benarkah demikian? Atau justru menjadi titik lemah perempuan sehingga rentan dilecehkan?
Dalam koloni binatang, khususnya semut dan tawon, akan terpilih satu betina yang disebut sebagai Ratu. Tugas utamanya bertelur dan dilayani serta dijaga oleh anggota lainnya. Ratu akan mati paling akhir, setelah semua anggotanya gugur.
Bagaimana dengan koloni manusia? Dalam peperangan dan berbagai pertikaian ras dan agama, kemampuan reproduksi justru menjadi bumerang bagi perempuan.
Mereka diperkosa supaya mengandung janin ras lain. Pemerkosaan juga menjadi penanda kemenangan, karena laki-laki dari pihak lawan gagal melindungi kaum perempuannya.
Kehormatan komunitas terletak pada kenyataan bahwa para perempuannya tidak dibiarkan diperkosa dan dilecehkan. Kaum laki-laki menjadi penjaga kehormatan itu lewat tanggung jawab mereka mengawal seksualitas perempuan.
Namun, yang kini terjadi, kita menemukan seorang Yuyun, remaja perempuan sederhana, mati diperkosa berulang oleh belasan remaja. Seorang anak belia lain, Putri Nur Fauziah, jenazahnya diikat dengan lakban dan ditekuk di dalam kardus. Anak-anak yang menjadi korban karena keperempuanannya. Betapa rentan menjadi perempuan.
Di sisi lain, kita menemukan para perempuan yang justru senang memainkan peran seperti anjuran Trump. “Gunakan vaginamu. Grab them by pussy.”
Terbongkarnya skandal harga daging sapi beberapa waktu lalu memunculkan barisan nama perempuan yang mendapatkan aliran dana salah satu koruptor.
Puluhan perempuan yang diakui sebagai “kawan” mendapatkan dana ratusan juta rupiah.
Mereka para perempuan yang tidak menempatkan dirinya sebagai PSK di lokalisasi, melainkan beredar di kampus, mengaku menjadi artis, atau bahkan bagian dari tetangga sekampung. Para perempuan yang menggunakan vaginanya dengan label pertemanan demi mendapatkan puluhan, bahkan ratusan juta rupiah.
Dan ketika kita tersinggung dengan ucapan Trump, maka yang kita hadapi bukan hanya laki-laki sejenis dia. Kita juga harus terbentur dengan para perempuan, kaum kita sendiri.
Pada sebuah negara yang digdaya, yang merawat tumbuhnya demokrasi dan terdiri atas beragam suku bangsa, yang melahirkan pahlawan dan negarawan besar dengan segala kemuliaannya, pada sebuah pemilu yang demokratis ternyata lebih banyak warganya yang memilih seorang Trump sebagai pemimpin.
Mengalahkan seorang wanita cerdas, anggun, dan siap seperti Hillary Clinton.
Ternyata pada negara sebesar dan sedemokratis Amerika Serikat, sebagian warga perempuannya (yang tidak sedikit) pun tak siap memilih seorang perempuan sebagai presiden mereka. Tapi tentu kita tak layak apatis.
Saya pernah melihat sebuah iklan jeans. Adegannya begini: Dua sosok laki-laki dan perempuan, berbusana jeans dan T-shirt, berlari adu kecepatan. Ada banyak dinding bata, tapi alih-alih jadi penghalang, mereka justru menerobosnya, dan dinding pun runtuh berkeping. Mereka terus berlari dengan gerakan yang tangkas.
Siapa pemenangnya? Tidak ada. Mereka sampai di ujung secara bersamaan. Lalu mereka saling pandang untuk kemudian meloncat lagi bersamaan melanjutkan adu kecepatannya.
Pesan apa yang tertangkap? Yang pertama tentu soal jeans. Misinya jelas, dengan memakai jeans merek tertentu maka pemakainya bisa bebas bergerak. Tapi ada pesan yang jauh lebih dalam. Iklan itu memberikan perspektif lain: Kesetaraan gender.
Karakter laki-laki dan perempuan yang melakukan gerakan yang sama, berlari dengan kecepatan yang setara, dan melompat dengan kemampuan tak jauh berbeda. Tidak adanya pemenang di antara mereka menunjukkan tidak adanya kekuatan yang lebih atau kurang di antara keduanya. Sebuah dunia yang setara.
Tidak pernah mudah menjadi perempuan. Takdir kita adalah memiliki tubuh yang gemulai, bukan perkasa. Naluri kita adalah kelembutan, naluri ibu, karena dari rahim kitalah sebuah generasi bermula.
Maka merespons ocehan Trump dengan topi bertelinga si pus meong (yang bukan pussy) adalah sebuah awal yang lembut namun bertenaga. Yang perlu kita lakukan adalah terus berjuang demi sebuah dunia yang setara.



