2. Luangkan waktu untuk berhenti bekerja
Mungkin terdengar sedikit rancu dengan kalimat tersebut, namun menurut Organization for Economic Cooperation and Development, pekerja di seluruh dunia rata-rata menghabiskan 34-48 jam di tempat kerja pada setiap minggunya, dan banyak juga yang masih melibatkan diri pada kegiatan yang terkait pada pekerjaanya setelah jam kerja.
McKinsey Quarterly Consultan Company, konsultan majemen global yang sudah banyak membantu dalam pengembangan pekerja perusahaan besar di seluruh dunia, menjelaskan bahwa perilaku karyawan yang “always on” serta lingkungan kerja yang menuntut multitasking justru membunuh produktivitas dan meredam kreativitas. Kedua hal itu juga ikut andil dalam mempengaruhi kondisi kejiwaan pada diri seorang pekerja.
Selain itu, salah satu penemuan paling signifikan dari McKinsey adalah ketika melakukan survei yang dilakukan terhadap karyawan perusahaan besar maupun kecil, dengan hasil bahwa sebagian besar karyawan memiliki waktu yang sangat sulit untuk memutuskan hubungan dari pekerjaannya.
Hal itu terkait dengan budaya menjadi pekerja keras yang mendarah daging dan kondisi terus-menerus yang menjadikan para pekerja “always on” pada suatu pekerjaan tersebut, yang menurut McKinsey dianggap sebagai suatu kesalahpahaman dan berbahaya. Mengapa?
Menurut McKinsey, bahkan seorang atlet terbaik dunia pun membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan kondisi pikiran dan tubuh secara biologis dalam bekerja.
Garis besarnya adalah Anda sebagai pemimpin harus mampu memerhatikan sisi psikologis karyawan. Contohnya, mesti tahu kapan Anda harus memberi pekerjaan dan kapan harus tidak melibatkan karyawan Anda. Tidak mengirim e-mail pekerjaan setelah pukul delapan malam atau pada akhir pekan juga dapat termasuk dalam membantu meringankan beban psikologis karyawan Anda.



