
Kembali ke titik nol
Sikap toleran harus kembali diajarkan kepada anak-anak kita saat ini, karena kunci dari kebahagiaan mereka adalah toleransi pada keberagaman. Agar mereka kelak dapat menjalin kerja sama dengan teman kerja dari latar belakang yang berbeda tanpa keraguan.
“Kalau tidak terbiasa bergaul dan tidak nyaman dengan yang berbeda, bagimana mereka bisa bekerja sama? Bisa bayangkan kondisi mereka di lingkungan kerja nantinya akan seperti apa. Kasihan,” ungkap Henny, Pendiri Yayasan Al-Izhar.
Kegagalan dalam bertoleransi bisa berdampak buruk. Ketika si anak gagal, ia bisa menjadi seorang social phobia. “Jangka panjangnya, anak bisa mempunyai pola pikir kerdil yang hanya melihat hitam putih, benar atau salah, kami atau kita, dan kamu atau saya,” kata Ifa di suatu sore. Ia menambahkan, anak akan ketakutan dengan segala hal yang berbeda dari dirinya, mudah menolak orang yang berbeda latar belakang, siap bermusuhan, merasa tidak nyaman, dan menjadi fanatik berlebihan.
“Itulah cikal bakal pola pikir radikalisme. Akarnya dari intoleransi, yang akan meningkat levelnya dari tidak suka menjadi benci, kemudian menjadi menghalalkan orang lain boleh dibunuh. Itu yang paling berbahaya,” lanjut Ifa yang meraih gelar Master of Educational Psychology dari University of Connecticut, Amerika Serikat. Kemampuan seorang anak menjadi toleran tergantung peran orang tua dan guru.
Kata Henny,yang utama dari pendidikan toleransi adalah kesadaran pada orang tua dan guru tentang kesetaraan dan kemanusiaan. Mengajarkan kesetaraan menjadi mustahil jika kita mencontohkan berlaku tak adil pada seseorang yang kita anggap lebih ‘rendah’ derajatnya.
“Pada saat kita mengatakan bahwa kita menerima perbedaan tapi cara kita (orang tua) memperlakukan pembantu dengan bahasa tubuh maupun bahasa verbal yang kasar, kita menunjukkan bahwa kita memiliki kekuasaan dan mereka tidak punya apa-apa. Maka contoh itu akan masuk kepada anak sebagai satu hal yang biasa,” ungkap Henny. Kemudian, kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemanusiaan itu penting. Sayangi semua manusia tanpa membedakan latar belakang mereka.
Praktik sederhananya, kumpulkan barang bekas, kemudian hasil penjualannya diberikan kepada mereka yang membutuhkan. “Hal-hal semacam itu memberikan pesan kemanusiaan,” ungkap Henny, lulusan Master of Arts di bidang Curriculum and Teaching di Michigan State University, AS. Ketika kemanusiaan dan kesetaraan sudah dijadikan praktik sehari-hari, maka latar belakang seperti agama, etnis, dan kesukuan tak lagi penting.
“Yang lebih berarti adalah bagaimana kita bersamasama menyongsong masa depan dengan rasa damai, dan saling menolong untuk memperbaiki lingkungan,” lanjut Henny. Agar toleransi kepada mereka yang berbeda itu tumbuh, orang tua harus percaya bahwa keberagaman adalah jalan terbaik bagi masa depan anak. Contohkan perilaku baik dalam keseharian secara terus menerus. Misalnya, orang tua menyuruh anak mengantarkan makanan kepada tetangga yang berbeda agama atau lain etnis dari dirinya. Mengajarkan toleransi kepada remaja berbeda dengan mengajarkan toleransi kepada anak-anak.
Remaja dapat diikutsertakan pada aktivitas yang seru dan memiliki nilai aktualisasi diri. “Tunjukkan bahwa kontribusi mereka berharga. Misalnya, bentuk panitia dengan anak-anak yang beraneka ragam latar belakangnya. Kegiatannya bisa pentas seni, olahraga, atau baksos. Tanpa sadar, mereka didesain bekerja sama,” ujar Ifa. Cara lain adalah menghilangkan prasangka pada suku, etnis, atau agama, yaitu dengan mengajak anak-anak untuk membaur dengan anak-anak berlatar belakang beragam di komunitas hobi yang sama.
“Misalnya, ajak anak bergabung di komunitas melukis. Itu pasti terdiri atas anak-anak yang berbeda agama. Atau, masukkan mereka ke komunitas olahraga yang relatif tidak ada diskriminasi karena skill yang dicari adalah yang bisa berolahraga,” Ifa menyarankan. “Sekolah juga punya peranan yang tak kalah penting karena sekolah bisa menawarkan beragam alternatif aktivitas, beragam alternatif cara membuka ruang perjumpaan, juga beragam alternatif teks buku bacaan sebanyak-banyaknya,” kata Ifa lagi.
Menyadari bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan, upaya mengubah persepsi guru tentang keberagaman sudah dilakukan sejak 2010 oleh Yayasan Cahaya Guru. Yayasan ini sudah mendampingi para guru di seluruh Indonesia untuk menyiapkan diri menjadi rujukan kebhinekaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Sudah sejak 2012, Yayasan Cahaya Guru mengadakan Wisata Rumah Ibadah dengan mengajak guru-guru ke rumah ibadah maupun membuat ruang perjumpaan dengan mengundang komunitas agama dan kepercayaan untuk berdiskusi dengan para guru.
Program Ragamuda pada Juni lalu dicetuskan oleh SMA Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan, dan SMA Kolese Kanisius Jakarta Pusat. Kedua sekolah ini membentuk organisasi Ragamuda yang bertujuan memupuk persatuan tanpa membedakan ras, suku, dan agama. Anda bisa memulai memutus rantai kebencian ini sekarang juga. Lagi pula, kalau bukan kita (dan anak-anak kita), siapa lagi?


