
Apa pun pekerjaannya, yang penting tanggal sekian kita gajian. Ini gurauan yang sering dilontarkan para karyawan. Mendengar itu, sangat mungkin kita berpikir bahwa hal terpenting bagi para pekerja adalah mendapatkan kompensasi setiap selesai melakukan pekerjaannya. Memang jika Anda bertanya apa yang para karyawan inginkan, kebanyakan akan menjawab gaji yang lebih besar. Tapi ternyata, alasan utama seorang karyawan hengkang dari pekerjaannya bukan itu.
Jika Anda mencari alasan utama seorang karyawan berhenti di situs pencarian Google, kemungkinan besar Anda akan bertemu dengan kalimat ini. “People don’t leave their jobs, they leave their managers”. Masalah ini sederhana saja. Anda, sebagai pemimpin, tidak bisa memenuhi kebutuhan karyawan. Jika Anda gagal melihat tanda-tanda ketidakbahagiaan karyawan hingga mereka melayangkan surat pengunduran diri, jangan terkejut, mungkin alasan mereka berhenti adalah Anda sendiri, atasan langsungnya.
Pemimpin pasti tidak ingin kehilangan karyawannya, apalagi jika karyawan itu berprestasi. “Karyawan yang talented tidak melulu cari gaji. Dia punya kebebasan untuk memilih mau kerja apa,” ujar Maya Arvini, General Manager Gunung Sewu Kencana. Bila karyawan tidak cocok atau bahkan tidak menghormati atasan langsungnya, ia tidak akan ragu-ragu meninggalkan pekerjaannya, berapa pun besar gajinya. Sebaliknya, atasan yang baik akan bisa menumbuhkan kesetiaan pada para karyawan, berapa pun gaji mereka. Masalah uang adalah hal yang paling mudah diselesaikan, begitu kata Maya. Yang sulit jika alasannya selain itu.
Melihat hasil survei tersebut dapat disimpulkan, uang bukan alasan utama orang bekerja. “Atasan harus peka terhadap kebutuhan masing-masing individu,” ujar Emilia Jakob, konsultan Experd. Keluhan soal uang, Emilia menambahkan, bisa diartikan sebagai kurangnya penghargaan di tempat kerja. Sebagai atasan, Anda perlu memberi ulasan tentang ini. “Apakah ia underpaid atau tidak. Ini harus dimaksimalkan oleh perusahaan.”
Untuk menghindari hal tersebut, Emilia menjelaskan perusahaan perlu melakukan performance review minimal enam bulan sekali. Hal ini dilakukan agar terjadi feedback dua arah, dari Anda sebagai atasan, begitu juga karyawan Anda. Yang kedua, teknik coaching yang dilakukan perusahaan harus jelas. “Apa yang Anda harapkan darinya? Ingin kemampuannya bertambah agar bisa dipromosikan dalam waktu enam bulan lagi, misalnya,” ujar Emilia.
Job value pekerjaan juga harus dilakukan dengan benar. Tidak mungkin gaji orang yang levelnya lebih rendah lebih tinggi dari atasannya. “Ini tidak mungkin secara struktur,” kata Emilia. Atasan bisa menawarkan hal lain seperti posisi lain atau kesempatan sekolah lagi. Secara pribadi, Maya Arvini berpendapat jika karyawan sudah membuat keputusan untuk berhenti, sulit untuk mengubah keputusan ini. “Jadi ketika ditawari gaji yang lebih besar, tidak pengaruh,” ujarnya. Jika semua cara yang ada tidak bisa mengakomodasi keinginan karyawan tersebut, dengan kata lain perusahaan tidak mampu memberikan kompensasi tepat atas pekerjaannya, mungkin ini waktunya melepaskannya pergi.
Jika Anda mencari alasan utama seorang karyawan berhenti di situs pencarian Google, kemungkinan besar Anda akan bertemu dengan kalimat ini. “People don’t leave their jobs, they leave their managers”. Masalah ini sederhana saja. Anda, sebagai pemimpin, tidak bisa memenuhi kebutuhan karyawan. Jika Anda gagal melihat tanda-tanda ketidakbahagiaan karyawan hingga mereka melayangkan surat pengunduran diri, jangan terkejut, mungkin alasan mereka berhenti adalah Anda sendiri, atasan langsungnya.
Pemimpin pasti tidak ingin kehilangan karyawannya, apalagi jika karyawan itu berprestasi. “Karyawan yang talented tidak melulu cari gaji. Dia punya kebebasan untuk memilih mau kerja apa,” ujar Maya Arvini, General Manager Gunung Sewu Kencana. Bila karyawan tidak cocok atau bahkan tidak menghormati atasan langsungnya, ia tidak akan ragu-ragu meninggalkan pekerjaannya, berapa pun besar gajinya. Sebaliknya, atasan yang baik akan bisa menumbuhkan kesetiaan pada para karyawan, berapa pun gaji mereka. Masalah uang adalah hal yang paling mudah diselesaikan, begitu kata Maya. Yang sulit jika alasannya selain itu.
Melihat hasil survei tersebut dapat disimpulkan, uang bukan alasan utama orang bekerja. “Atasan harus peka terhadap kebutuhan masing-masing individu,” ujar Emilia Jakob, konsultan Experd. Keluhan soal uang, Emilia menambahkan, bisa diartikan sebagai kurangnya penghargaan di tempat kerja. Sebagai atasan, Anda perlu memberi ulasan tentang ini. “Apakah ia underpaid atau tidak. Ini harus dimaksimalkan oleh perusahaan.”
Untuk menghindari hal tersebut, Emilia menjelaskan perusahaan perlu melakukan performance review minimal enam bulan sekali. Hal ini dilakukan agar terjadi feedback dua arah, dari Anda sebagai atasan, begitu juga karyawan Anda. Yang kedua, teknik coaching yang dilakukan perusahaan harus jelas. “Apa yang Anda harapkan darinya? Ingin kemampuannya bertambah agar bisa dipromosikan dalam waktu enam bulan lagi, misalnya,” ujar Emilia.
Job value pekerjaan juga harus dilakukan dengan benar. Tidak mungkin gaji orang yang levelnya lebih rendah lebih tinggi dari atasannya. “Ini tidak mungkin secara struktur,” kata Emilia. Atasan bisa menawarkan hal lain seperti posisi lain atau kesempatan sekolah lagi. Secara pribadi, Maya Arvini berpendapat jika karyawan sudah membuat keputusan untuk berhenti, sulit untuk mengubah keputusan ini. “Jadi ketika ditawari gaji yang lebih besar, tidak pengaruh,” ujarnya. Jika semua cara yang ada tidak bisa mengakomodasi keinginan karyawan tersebut, dengan kata lain perusahaan tidak mampu memberikan kompensasi tepat atas pekerjaannya, mungkin ini waktunya melepaskannya pergi.



