
Traveling selalu membuat saya bersemangat. Dari mulai merencanakan destinasi, berdiskusi dnegan calon teman seperjalanan, hingga memilih busana yang harus saya bawa. Kesenangan ini mmebuat saya menjadi pemilih. Saya hanya akan mengunjungi lokasi-lokasi yang saya inginkan dan melakukan kegiatan yang benar-benar akan saya nikmati. Saya tidak perlu menonton opera karena semua orang melakukannya. Saya lebih memilih berjalan kaki keliling kota, walau tanpa tujuan sekalipun. Setiap menit waktu liburan saya begitu berharga sehingga saya memilih untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak akan saya nikmati.
Pada situasi dan kondisi normal, kita terkadang tidak punya kemewahan itu. Kita mungkin memaafkan hal-hal yang sebenarnya tidak dapat kita terima seperti keterlambatan atau kemacetan lalu lintas. Hal yang tidak bisa kita toleransi ketika merasa waktu begitu berharga. Apakah kita tidak berani memilih hanya yang tarbaik agar hidup menjadi lebih berkualitas?
Mengapa wanita seperti tak punya ambisi?
Saya ingin membuktikannya, dan berbincang dengan beberapa wanita dari usia, latar belakang pendidikan, dna profesi berbeda."Saya bukan orang yang ambisius." Begitu kira-kira jawaban mereka. Padahal, ketika berbicara lebih lanjut, tersirat ambisi mereka dalam hidup.
"Idealnya dalam hidup kita memiliki ambisi, sebuah tujuan yang perlu dicapai serta motivasi untuk mewujudkannya," kata Esti Wijayanthi, psikolog. Esti berpendapat laki-laki lebih berambisi karena masyarakat menuntut mereka untuk bertanggung jawab terhadap keluarga, perempuan tidak. Kecuali ada pengalaman hidup yang mendorongnya dan memunculkan ambisi tertentu.
Secara umum, ada dua hal yang menghambat wanita dan kemampuan mereka untuk mengaku punya ambisi. Rocky Gerung, Dosen Filsafat dari Universitas Indonesia menyatakan, dari sisi kultural, ambisi seorang wanita berada di balik langit-langit kaca. "Ia bisa melihat tapi tidak bisa mencapainya," ujar Rocky. Sementara secara sosial, para wanita tersebut akan dipertanyakan (termasuk oleh sesama wanita), untuk apa punya ambisi. Rocky mengibaratkannya kumpula rajungan dalam ember. Jika ada yang mencoba keluar, yang lain akan rama-ramai menariknya kembali.
Banyak orang menganggap ambisi sebagai kata yang menakutkan. Ambisi sering kali diasosiasikan dengan kata curang, mau menang sendiri, dan menghalalkan segala cara. Jika Anda percaya hal ini dan merasa ketiga hal tersebut tidak menggambarkan Anda, maka akan ada asosiasi baru di pikiran Anda. Karena saya tidak curang, egois, dan menghalalkan segala cara, maka saya pasti bukan orang yang berambisi.
Masalah ambisi pada wanita umumnya berasal dari luar diri. Contohnya, takut dianggap bukan istri yang baik jika harus tinggal berpisah dari suami saat ia menerima beasiswa ke luar negeri. Konstruksi sosial peradaban kita yang membuatnya demikian. Padahal. soal kemampuan seseorang tidak berhubungan dengan gendernya.
Memiliki ambisi atau target-target dalam fase hidup Anda bisa dianalogikan seperti kebugaran fisik. Orang yang normal dapat menggunakan tubuhnya untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Padahal tubuh dapat berfungsi jika Anda berolahraga. Punya tubuh yang bugar tentu lebih menguntungkan dibanding tubuh yang kondisinya biasa-biasa saja. Yang pasti, Anda percaya pada kemampuan diri sendiri.
5 Kalimat Motivasi Saat Cuci Tangan
Waktu 20 detik saat cuci tangan pun berlalu tanpa terasa. ... more
Hal Terpenting dalam Bekerja
Apalagi jika pandemi Covid-19 mempengaruhi pekerjaan dan gaji Anda. ... more
Jenahara Nasution dan Passion di Dunia Fashion
Di situasi new normal ini, passion membuat Jenahara Nasution lebih termotivasi dalam bekerja. ... more



