
Anakku memilih jadi transgender - pengalaman Sri Kuncoro Harjo, 73, ayah dari Abi Ardinanda, 25, transgender
“Abi terlahir sebagai laki-laki. Ia juga tumbuh seperti anak laki-laki pada umumnya sampai duduk di SMP. Saya mulai curiga sejak ia masuk SMA. Saya perhatikan, ada yang berbeda dari gerak-geriknya sebagai anak laki-laki. Sikap duduknya, cara bicaranya, meski barang-barang atau pakaiannya masih sama. Saya bahkan pernah bertanya kepadanya, ‘Kamu, kok, seperti itu?’, tetapi ia tidak pernah menjawab. Saya juga sempat memberi peringatan.
“Akhirnya, di tahun 2013, saat Abi berusia 21 tahun, ia mengaku kepada kami, orang tuanya, bahwa ia ingin jadi seorang transgender. Sebelumnya dia telah mengaku ke kakaknya lebih dulu.
“Abi anak bungsu dan dua kakaknya perempuan. Abi mengaku selama ini ia tidak nyaman menjadi laki-laki. Fisiknya memang laki-laki tetapi ia merasa dirinya perempuan. Selama beberapa lama saya dan istri tidak mau menerima kenyataan ini, tetapi akhirnya kami berkumpul. Ngobrol panjang sampai malam. Saya tanya pada Abi, ‘Apakah kamu siap?’"
“Ternyata Abi sudah menyiapkan diri sejak lama. Ia sudah menemui dokter dan psikiater—bahkan sampai ke Australia— untuk memastikan apakah sebetulnya ia perempuan atau laki-laki. Abi sendiri yang membiayai semua itu. Kami sebagai orang tua memang khawatir sekali dengan masa depannya, tetapi kami tahu Abi adalah anak yang mandiri."
“Abi anak yang pintar, hormat kepada orang tua, juga kepada saudara-saudaranya. Abi memiliki banyak sepupu seumurannya. Mereka semua dekat satu sama lain dan menerima perubahan Abi. Sejak kuliah, Abi sudah jadi produser radio di Bandung. Setalah lulus kuliah, ia bekerja di Jakarta. Kini Abi juga sudah sepenuhnya tampil sebagai perempuan. Kami tahu tetangga banyak yang mencibir. Tapi selama mereka bicara di belakang, kami biarkan saja.”
Opini psikolog
“Hingga saat ini, masih berlangsung kontroversi antara dua kubu menyangkut LGBT. Satu kubu menganggapnya sebagai kelainan DNA, kubu lainnya menganggap LGBT terbentuk karena pola asuh atau pengaruh pergaulan. Namun, harus diakui, tak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan anak mereka menjadi LGBT."
“Mengacu pada teori Cass, dalam perkembangan identitas seksual seseorang, terdapat enam tahapan yang akan menentukan orientasi seksualnya. Tahap pertama dan kedua adalah identity confusion dan identity comparison yang umum terjadi pada anak-anak.
“Ketiga, identity tolerance, ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan identitas seksualnya. Keempat, identity acceptance atau sudah menerima sebuah identitas seksual apa adanya. Kelima, identity pride, sudah timbul kebanggaan pada pilihan identitas seksualnya. Keenam, identity synthesis, yaitu sudah menyelaraskan semua perilaku pada identitas seksual yang dipilih."
“Bila kegalauan anak baru sampai di tahap ketiga, kemungkinan dia masih bisa ‘diluruskan’. Tapi kalau sudah di tahap 4-6, kemungkinan besar sulit diubah lagi. Sebaiknya orang tua mulai belajar menerima kenyataan.”
Bagaimana jika anak remaja Anda hamil di luar nikah? Ceritanya ada di halaman selanjutnya



