
Boy terjerat narkoba - pengalaman Sofia, 47, notaris, ibu 2 anak
“Sebenarnya kecurigaan itu sudah mulai timbul ketika suatu hari ART saya melapor bahwa tabung gas cadangan kami menghilang. Sebelumnya, uang di dompet saya kerap hilang beberapa lembar. Belakangan saya juga mendapati koleksi peralatan dapur saya ternyata tinggal kardusnya saja. Tapi, rasanya tidak mungkin kalau pencurinya adalah Boy, si bungsu yang manja."
“Saya dan suami syok setengah mati ketika suatu sore kami mendapat kabar bahwa polisi telah menahan Boy dan tiga temannya, setelah tertangkap basah sedang mengonsumsi sabu. Hasil tes urinnya positif. Boy juga sudah mengaku.
“Betapa pun kami mencoba menyangkal, faktanya anak kami sudah terjerat narkoba. Untunglah waktu itu Boy masih dikategorikan anak. Boy tak perlu masuk penjara, tapi tetap dikeluarkan dari sekolah. Setelah menjalani rehabilitasi di RSKO, kami memasukkan dia ke pesantren berasrama di luar kota."
“Saya memang ibu bekerja, tapi tidak sibuk-sibuk amat. Kami punya grup WA keluarga, di mana saya bisa memantau kegiatan anak-anak sekaligus memelihara komunikasi. Lagi pula, Boy setiap hari pulang ke rumah, meski malam. Menurut Boy, awalnya dia hanya coba-coba karena ditantang temannya, dan tahu-tahu sudah kecanduan. Untung narkoba belum sampai merusak organ-organ tubuhnya. Alhamdulillah."
“Meski sangat terpukul, saya dan suami tidak mau saling menyalahkan. Ini kesalahan kami berdua. Sebuah pelajaran hidup yang menyakitkan tapi sangat berharga.”
Opini psikolog
“Tak ada jaminan seorang anak bisa terbebas 100% dari ancaman narkoba: Anak orang kaya, anak orang miskin, anak broken home, anak ulama, dan sebagainya. Mengapa seorang anak bisa terjerumus dalam narkoba?
“Pertama, tentu karena ada akses untuk mendapatkannya. Bisa dari lingkungan pergaulan, pedagang makanan di lingkungan sekolah, pengedar yang menjual narkoba dengan ancaman, dan sebagainya. Dalam hal ini, bukan hanya orang tua yang bertanggung jawab, tapi juga sekolah, lingkungan, bahkan pemerintah."
“Kedua, pecandu narkoba cepat atau lambat pasti akan mengalami perubahan: Perilaku, fisik, maupun emosi. Misalnya, jadi mudah mengantuk, gampang gelisah, jadi lebih emosional, atau justru jadi menarik diri. Selanjutnya diikuti dengan prestasi belajar yang menurun, mulai suka mencuri, bahkan diam-diam menjual diri (biasanya pada gadis-gadis muda).
“Mau tak mau, orang tua harus menjadi garda terdepan sebagai benteng pertahanan anak, harus memiliki antene yang supersensitif dalam mengamati setiap perubahan pada perilaku dan emosi anak-anaknya. Apalagi bila perubahan itu sering terjadi dan cukup kentara.”



