
Mama, aku hamil... - Riyani*, 44, ibu rumah tangga, ibu 3 anak)
“Jantung saya serasa berhenti berdetak sewaktu mendengar pengakuan itu dari mulut Sheila*, putri saya, usia 16 tahun, kelas 2 SMA. Saya berharap ada kekeliruan diagnosis, tapi ternyata Sheila memang benar-benar hamil. Sudah masuk bulan keempat. Padahal saya selalu tahu kapan dia haid, dan dia selalu menjadi lebih lemas dan malas kalau sedang haid. Bagaimana saya bisa sampai kecolongan?"
“Yang menghamili adalah pacarnya, Dondon*, kakak kelasnya yang baru berusia 17 tahun. Kata Sheila, mereka biasa ML (making love) di kamar Dondon sepulang sekolah. Dondon anak tunggal dan pada siang sampai sore hari di rumahnya hanya ada seorang ART (yang sering berganti-ganti), karena ayah-ibu Dondon bekerja.
“Saya dan suami sudah menemui orang tua Dondon. Pemuda itu mengakui perbuatannya, tapi orang tuanya ngotot tidak percaya dan meminta Sheila melakukan tes DNA. Suami saya naik darah dan kami pun meninggalkan rumah mereka dengan darah mendidih."
“Sheila jadi makin stres. Cintanya pada Dondon seolah sirna begitu saja. Dia bilang, dia tak sudi menikah dengan Dondon. Dia juga tidak menginginkan anaknya. Dia tidak mau melakukan apa-apa selain menangis di kamar. Kepala saya rasanya mau pecah. Saya pribadi memang tidak setuju Sheila menikah dengan Dondon. Pernikahan anak, apalagi karena ‘kecelakaan’, pasti tidak akan langgeng. Tapi kalau mereka tidak menikah, bagaimana nasib anak yang dikandung? Di akte kelahirannya pasti akan tertulis ‘anak di luar nikah’."
“Selama menunggu saat melahirkan, saya mengungsikan Sheila ke rumah ibu saya di Temanggung*. Sekolahnya terpaksa berhenti sementara. Di saat sedang panik-paniknya, seorang sepupu saya yang tak punya anak meminta izin untuk mengadopsi bayi Sheila sesaat setelah dilahirkan. Sheila setuju, sedangkan saya… entahlah. Suami saya nyaris tak bisa dimintai pendapat saking stresnya.
“Pada akhirnya, bayi Sheila—perempuan—diadopsi oleh sepupu saya, dan kami semua, di bawah sumpah, diminta untuk tidak menemui si bayi."
“Itu kejadian tiga tahun yang lalu. Lima bulan setelah melahirkan, Sheila melanjutkan sekolah di Semarang*, tinggal bersama adik saya yang tidak menikah. Saat ini Sheila sudah kuliah. Saya sendiri tetap tinggal di Jakarta."
“Saya tidak tahu apakah ini keputusan yang benar atau salah, tapi ini keputusan terbaik bagi kami pada saat itu. Saya tak tahu apa yang bergolak di hati Sheila. Tapi sepertinya dia baikbaik saja. Saya juga sudah lama menulikan diri menyangkut gosip yang beredar di sekeliling kami. Terserah mereka mau bilang apa. Saya hanya tak putus berdoa, semoga Tuhan selalu melindungi Sheila.”
Opini psikolog
“Tidak ada sebuah jalan keluar yang ideal bagi setiap keluarga bila menghadapi masalah yang sama. Karena, kondisi masing-masing keluarga berbeda-beda. Yang terbaik bagi keluarga A, belum tentu cocok untuk keluarga B. Kalau keputusan itu dianggap terbaik bagi keluarga Riyani, berarti itu memang yang terbaik pada saat itu. Tapi tentunya mereka juga harus siap lahir batin menghadapi risiko dan ekses dari keputusan tersebut di masa depan."
“Merasa bersalah atau merasa gagal mendidik anak wajar saja dirasakan orang tua. Namun, tak ada gunanya lagi berandai-andai, karena semua sudah telanjur terjadi. Namun, sepahit apa pun kenyataan yang harus dihadapi, orang tua tetap harus menyertakan si anak di dalam setiap keputusan dan jalan keluar yang diambil. Singkirkan rasa malu, aib keluarga, dan sebagainya. Karena, yang harus diutamakan adalah kepentingan dan masa depan anak kita.”
Klik pengalaman selanjutnya tentang orang tua yang anaknya terjerat narkoba



